Rabu, 18 April 2012

Gendang Karo (Puisi)

Gendang Karo


Oleh: Tariganu


Gendang Karo lima sendalanen
Gendang Sarune gung penganak
Gendangna dua si tongtihen
Perkolong-kolongna dua kalak?


Lima sendalanen sembuyak senina
ipersada gendang ras anak beruna
                                     kalimbubuna
Ngikuti panggungna bas turin perlandek
Singalo-ngalo bas tedeh mekelek
Gendang Karo lima sendalanen
Persada silima merga kenjahe kenjulu


Dari buku Antologi Puisi Pincala, hal 15

Minggu, 22 Januari 2012

KOIN SIMBOL GOTONG ROYONG UNTUK PENYELAMATAN ASET BUDAYA NUSANTARA DI TANEH KARO SIMALEM


Sebuah catatan dari pejuang...


Salam Mejuah-juah,
Sangat sayang tuk dilewatkan,
Mari sejenak serius, merenung dan berbuat secepat mungkin sebelum terlambat...


Sebuah peluang yang besar sesungguhnya bagi generasi muda Karo ketika sebagian besar orang Karo hanya mempertanyakan bagaimana sikap orang Karo sebagai pemilik, pewaris dan pengguna budaya sekarang ini tidak mengindahkan solusi atas masalah krisis wisata budaya khususnya keberadaan bangunan tradisional Karo. Pada proses restorasi rumah adat Karo di Melas, sangat terlihat kekompakan antara masyarakat dengan panitia dan relawan khususnya karang taruna, karena gerakan koin ini bukan semata-mata hanya untuk mengumpulkan dana untuk perbaikan rumah adat Karo saja, akan tetapi untuk membangun kembali rasa kepedulian, kecintaan dan kebersamaan antar masyarakat. Suatu hal yang luar biasa ketika bekerjasama dengan masyarakat setempat dan tanpa memperoleh imbalan, melainkan mereka rela mengambil bahan yang diperlukan untuk restorasi tersebut seperti bambu, membawa alat dan bahan dari simpang melas, memfasilitasi penginapan dan tempat mandi serta bahan makanan (sayur mayur) untuk relawan selama restorasi tersebut. Suatu bukti nyata, berbuat tanpa banyak tanya, berbuat  tanpa banyak bicara, dan bertindak tanpa banyak kata, itu yang kita harapkan ketika setiap orang yang ingin membantu hendaknya lahir dari kesadaran yang paling dalam.

               Restorasi rumah adat Karo di desa Melas untuk tahap pertama dapat dikatakan sukses karena prioritas yang diharapkan tercapai, yaitu penyisipan atap, karena banyak atap yang telah bocor sehingga memperlambat pembusukan kayu. Semoga restorasi untuk tahap ke dua tidak terlalu lama sehingga kerusakan-kerusakan pada rumah adat tersebut secepatnya tertanggulangi, dan kiranya menjadi bukti nyata bahwa gerakan koin untuk rumah adat Karo ini adalah benar-benar kegiatan yang serius, jujur dan nyata, sehingga harapan kita semakin banyak yang akan menyumbangkan koinnya dan ikut sebagai pengumpul koin untuk rumah adat Karo dan ikut menjadi relawan untuk tahap restorasi berikutnya. Mari sumbangkan koin anda untuk restorasi rumah adat Karo di Desa Melas Kec. Dolat rayat Kab. Karo

Bujur ras Mejuah-juah kita kerina...

Gerakan Koin untuk Rumah Adat Karo, Desnalri Sinulingga


Ayo, ramaikaaaaan!!!

Cerita Foto [Pemusik Cilik]


  Penerus alat2 musik tradisional Karo di masa depan, mantab...
Seorang anak memainkan alat musik tradisional Karo, Penganak (gong kecil)



 Ini dia penerus alat2 musik tradisional Karo.. Uhh lucu *gemes

Dalam gambar tampak seorang anak bersama seorang pemuda Karo memukul alat musik tradisional Karo, Ketteng-ketteng (terbuat dari Bambu).

 , 2011

Cerita Foto [Rias Pakaian Adat Karo]

Foto pada sebuah acara Lomba Merias Pakaian Adat Karo di Depok, 2011
Seorang gadis Karo, Beru Ginting
sedang menunggu giliran landek (menari)
Depok, 2011
Model dalam latihan menghias Pengantin Karo, Depok, 2011

Selasa, 17 Januari 2012

Menikmati Pesona Air Terjun Sipiso-piso

Kompas / Klasika Selasa, 17 Januari 2012, Hal. 41


LINTAS UDARA | Karo




Air terjun selalu mampu memberikan sensai tersendiri bagi para pengunjungnya. Entah lantaran deru suaranya ataupun suasana yang ditawarkannya. Dari sekian banyak air terjun di Indonesia, ada satu yang menyimpan pesona alam luar biasa, Air Terjun Sipiso-piso.

Terletak di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, air terjun ini sudah menawarkan pesona alam yang luar biasa sejak Anda menjejakkan kaki di Desa Tongging, tempat Air Terjun Sipiso-piso berada. Secara geografis, Desa Tongging berada di dataran lebih rendah, sementara Air Terjun Sipiso-piso terletak di perbukitan yang lebih tinggi dari Desa Tonggin dan dikelilingi oleh bukit yang hijau karena ditumbuhi hutan pinus.

Di sana, Anda akan disuguhi pemandangan indah khas Tanah karo dari gardu pandang yang ada di puncak bukit, titik pangkal aliran Air Terjun Sipiso-piso. Dari puncak bukit yang mengitari Air Terjun Sipiso-piso ini pula Anda dapat menyaksikan keindahan lanskap Danau Toba, danau vulkanik terbesar di dunia.

Usai menyusuri anak tangga, Anda kembali disuguhi pemandangan yang luar biasa dengan tingginya bukit-bukit yang mengitari dibarengi gemuruh suara percikan butiran air yang memantul dari titik jatuhya air. Maklum, air terjun ini memiliki ketinggian 120 meter sebelum mengalir ke Danau Toba sehingga banyak orang yang pernah berkunjung ke tempat ini mengatakan besaran butiran percikan air jatuh di Sipiso-piso lebih besar dari Air Terjun Sigura-gura.

Tak heran bila air terjun ini dinamakan Sipiso-piso yang berasal dari kata piso yang artinya pisau. Derasnya air yang berjatuhan dari bukit berketinggian di atas 100 meter ini diperumpamakan layaknya berbilah-bilah pisau yang tajam. Selain itu, jurang yang curam jika dilihat dari puncak bukit membuat orang setempat menyebutnya pisau dari Tanah Karo.

Untuk mencapai lokasi Air Terjun Sipiso-piso ini, dari Medan Anda harus menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam dengan menggunakan mobil atau bus. [AYA]

Sabtu, 14 Januari 2012

GERAKAN KOIN UNTUK RUMAH ADAT KARO


Tertatih Membangun Suah

Senin pagi, hari pertama 2012. Desa Melas di
 Kec. Dolatrayat, Tanah Karo, Sumatera Utara,
Senyap. Pintu-pintu rumah masih tertutup rapat. “Ini kan
masih tahun baru,” kata Saman Kemit, warga desa itu.

Majalah Tempo edisi 9-15 Januari 2012
SOETANA MONANG HASIBUAN
_____________________________

Ditengah rumah-rumah itu terdapat rumah siwaluh  jabu  atau suah . Tak seperti rumah lain yang tutup karena penghuninya baru begadang merayakan pergantian tahun, bangunan berarsitektur tradisional itu tutup karena memang tak berpenghuni. Inilah rumah asli Karo.

Pada 1920-an, 3 rumah suah  berdiri kokoh di desa itu. Rumah suah  merupakan bangunan yang tidak berkamar dan biasa dihuni delapan keluarga. Para penghuni tidur dilantai, hanya bersekatkan kain, sebagai pemisah antar keluarga. Dalam memasak, delapan keluarga dibagi menjadi empat kelompok, sehingga di suah  terdapat empat tungku.

Suah tidak memakai paku. Bulatan kayu dengan pahatan seadanya disatukan memakai potongan kayu lainnya dengan pasak. Penyangganya, 12 potongan kayu bulat setinggi satu meter, berdiri atas bongkahan batu alam. Meski telah berumur seratus tahun, pondasi berbahan kayu pengkih  belum lapuk.

Pada 1970-an, rumah suah tak lagi dihuni. Dua rumah ambruk. Satu rumah kini tertatih dalam proses penyelamatan, yang dilakukan oleh Gerakan Koin untuk Rumah Adat Karo sejak akhir 2009. “Kondisinya masih 50 persen,” kata Desnalri Sinulingga, Ketua Gerakan Koin. Bangunan diatas lahan 10 x 7 meter itu memang compang camping. Anak tangga berbahan bambu rusak. Beberapa bagian dinding juga bolong.

____________

Desember 2009, enam mahasiswa Fakultas Seni Rupa Universitas Negeri Medan tergugah melihat kondisi rumah suah, yang merupakan warisan budaya Tanah Karo. Desnalri Sinulingga, Sada Kata Ginting, Desthanta Permana Purba, Oky M Barus, Daniel Kacaribu, dan Sry Juita Ginting bersepakat untuk bertindak.    

Dari hasil inventarisasi mereka, masih terdapat dua puluh bangunan rumah adat yang tersisa. Namun hanya sedikit yang masih dihuni. Desa Melas dipilih sebagai proyek penyelamatan, meski hanya ada satu rumah yang tersisa disana. “Masyarakatnya masih orisinal, belum terpengaruh, “ kata Desnalri, member alas an.

Mulanya warga kurang antusias terhadap gerakan para mahasiswa kota tersebut. Namun setelah Gerakan Koin untuk Rumah Adat Karo dideklarasikan pada 29 Mei 2010, masyarakat tergerak. Bahkan seorang pemilik hutan bambu menyilakan mereka mengambil bambu secara gratis.

Desnalri dan teman-teman memang kesulitan. Dari berbagai upaya hanya terkumpul Rp.200 ribu. Baru setelah Desnalri yang saat itu Wakil Pemimpin Redaksi Tabloid Sora Sirulo, berdiskusi dengan para atasannya, jalan keluar terbuka. Hasilnya, terkumpul Rp. 6 juta. Kini proses restorasi masih berjalan, meski tertatih. “Target kami sudah harus selesai 2012 ini,” ujar Desnalri berjanji.