Sabtu, 19 November 2011

Mengumpulkan Koin, Menyelamatkan Rumah Adat



mari selamatkan rumah adat karo
Sekumpulan mahasiswa Universitas Sumatera Utara dan Universitas Negeri Medan yang
tergabung dalam Sanggar Seni Sirulo dan Sanggar Seni Tinuang melakukan pentas seni
di beranda sebuah rumah adat Karo di Desa Melas, Kecamatan Dolat Rayat,
Kabupaten Karo, Sabtu (29/5) Foto & Teks: Kompas/Khaerudin



Nada suara Rajadat Bukit terdengar berat saat menceritakan nasib rumah adat milik keluarganya di Desa Melas, Kecamatan Dolat Rayat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara Matanya menerawang ke masa 30 tahun lalu, saat dirinya bersama tujuh keluarga lain harus meninggalkan rumah adat. Gerimis sore itu seperti memaksa Rajadat mengingat satu-satunya kesalahan komunal warga Karo yang menelantarkan warisan leluhur mereka, tak dapat merawat rumah adat.



Rumah adat milik keluarga Rajadat kini hampir rusak seluruhnya. Atap ijuknya di beberapa tempat telah berlubang, tak kuasa menahan gempuran air hujan. Akibat lama tak dirawat, banyak lumut tumbuh di atap ijuk tersebut.
“Saya lahir dan besar di rumah adat. Bahkan, sampai anak bungsu saya lahir, saya masih tinggal di sana. Sekarang anak bungsu saya sudah berusia 30 tahun,” ujar Rajadat yang mengaku tak lagi mendiami rumah adat sejak akhir 1970-an. “Mungkin sekitar tahun 1979 rumah itu tak lagi kami tempati. Saya tak ingat kapan persisnya,” kata Rajadat.
Rumah adat milik keluarga Rajadat didirikan pada 1922. Rajadat, yang kini berusia 68 tahun, mengingat, kakeknya yang dulu membangun rumah adat. Kini dia memasrahkan perbaikan rumah adat keluarganya kepada komunitas anak-anak muda yang tergabung dalam Sanggar Seni Tinuang dari Universitas Negeri Medan (Unimed) dan Sanggar Seni Sirulo dari Universitas Sumatera Utara (USU).
Kepedulian mahasiswa
Awalnya, aktivis Sanggar Seni Tinuang yang kebanyakan berasal dari mahasiswa Jurusan Seni Rupa Unimed mencoba memperbaiki dinding kayu rumah milik keluarga Rajadat. Mereka mengecat ulang dan menggambar beberapa ornamen adat khas Karo. Selain itu, anak-anak muda ini juga membuat beranda dari batang bambu di depan pintu. Beranda itu dilengkapi tangga kecil karena memang rumah adat Karo berbentuk panggung.
Karena ditinggalkan lama, jangankan beranda atau tangga, rumah adat di Desa Melas ini kondisinya mengenaskan hingga di bagian dalam. Tak bersisa sedikit pun bekas bahwa di dalam rumah pernah tinggal delapan keluarga. Namun, struktur bangunan rumah masih banyak yang utuh. Bekas dapur atau perapian masih tersisa dua, dari biasanya ada empat. Bagi rumah adat yang didiami delapan keluarga, biasanya memiliki empat dapur. Satu dapur untuk dua keluarga.
Selain itu, ornamen tempat menggantung bumbu masakan hingga tempat mengeringkan padi masih tersisa di dalam rumah. Struktur panggung rumah juga masih utuh. Kayu juhar dan ingul yang bisa dijadikan penopang lantai dan panggung rumah masih utuh dan selamat dari keropos. Hanya saja lantai rumah tak lagi bersisa. Kerusakan lain yang jelas terlihat adalah atap ijuknya.
Upaya aktivis Sanggar Seni Tinuang memperbaiki rumah adat Karo tersebut rupanya diketahui penggiat seni tradisi Karo lainnya di USU, yakni Sanggar Seni Sirulo. Secara kebetulan, komunitas yang tergabung dalam Sanggar Seni Sirulo menerbitkan tabloid bulanan bagi komunitas Karo di seluruh dunia. Mereka pun kemudian mengekspos upaya perbaikan rumah adat oleh Sanggar Seni Tinuang.
“Akhirnya kami berdiskusi dan sepakat agar ada gerakan moral untuk menyelamatkan rumah adat Karo dari kepunahan. Kami kemudian menggagas gerakan pengumpulan koin sebagai simbol kampanye moral menyelamatkan rumah adat Karo. Kami berharap kampanye ini bisa membuat masyarakat Karo di mana pun mereka tinggal sekarang ini ikut tergerak menyelamatkan warisan leluhurnya,” ujar salah seorang aktivis Sanggar Seni Sirulo, Juara Ginting.
Juara, yang kebetulan juga pengajar di Jurusan Antropologi USU, tengah meneliti rumah adat Karo untuk disertasi doktoralnya di Universitas Leiden, Belanda. Bak gayung bersambut, upaya sesama anak muda Karo yang kebetulan tengah menempuh studi di Medan ini diwujudkan dalam Deklarasi Penyelamatan Rumah Adat Karo di Desa Melas, Sabtu (29/5). Diiringi gerimis, mereka berkumpul bersama perwakilan delapan keluarga pemilik rumah adat. Rajadat adalah kepala dari delapan keluarga yang pernah tinggal di rumah adat Desa Melas.
Sebenarnya masih ada satu bangunan rumah adat lain di Desa Melas. Jaraknya hanya sepelemparan batu dari rumah adat milik keluarga Rajadat. Namun, kondisinya sudah tak mungkin lagi diperbaiki. Atap ijuknya jebol. Air hujan langsung menimpa struktur kayu. “Rumah yang satu lagi tinggal menunggu runtuh. Kami tak mungkin lagi memperbaikinya. Sebenarnya yang seperti ini banyak dijumpai di pelosok desa Tanah Karo. Rumah adat yang rusak parah dan tinggal menunggu runtuh,” kata Juara. Rumah adat bagi masyarakat Karo adalah simbol komunalitas mereka.
Sabtu sore itu, setelah disepakati bagaimana cara menggalang dana memperbaiki rumah adat, dua komunitas seni tersebut berbarengan menampilkan seni musik tradisional Karo di hadapan seluruh penduduk Desa Melas. Seperti ingin menggugah kesadaran penduduk setempat akan warisan leluhur mereka, selain bermain musik dan menyanyi, mahasiswi USU dan Unimed tersebut juga mengajak warga menari landek, tarian keakraban dalam masyarakat Karo.
Niat baik dan kepedulian anak-anak muda Karo ini membuat trenyuh Kepai Tarigan yang pernah mendiami rumah adat di Desa Melas. Kepai merupakan kerabat Rajadat. Dia mengatakan, jika sampai rumah adat mereka selesai diperbaiki, mereka mempersilakan siapa pun yang hendak tinggal dan merawatnya. “Tanpa kami pungut apa pun, asal mau merawat rumah tersebut,” ujar Kepai. Bagi Kepai dan Rajadat, sudah cukup generasi setelah mereka mengingatkan kesalahan kebanyakan warga Karo yang membiarkan rumah adat mereka di ambang kepunahan.
Banyak pihak sebenarnya peduli terhadap ancaman kepunahan rumah adat Karo. Kolektor rumah adat di Indonesia malah tak peduli mengeluarkan banyak biaya untuk mengangkut seluruh struktur bangunan rumah adat itu supaya bisa dibawa ke luar Tanah Karo dan dimiliki mereka. Rumah adat milik keluarga Rajadat sempat ditawar untuk dibeli oleh Gereja Batak Karo Protestan. Namun, akhirnya keluarga memutuskan, tak menjualnya. Terlebih setelah ada niatan dua komunitas seni tradisi Karo di Medan memperbaiki rumah tersebut.
Menurut Juara, koin yang dikumpulkan ini akan menjadi titik awal perjuangan mereka merevitalisasi rumah adat Karo. “Semoga dengan upaya kami ini, akan semakin banyak orang Karo tergugah menyelamatkan salah satu identitas komunitasnya. Bagaimana pun rumah adat ini salah satu bentuk peneguhan identitas orang Karo,” katanya.


Sumber: KOMPAS, Senin, 2 Agustus 2010
Hal: 36, Kolom TEROPONG - Nasional

Rumah Adat Karo Menunggu Punah

Rumah adat suku Karo di Sumatera Utara sudah banyak yang rusak. Dari lima bangunan yang masih ada, kini hanya dua yang ditinggali. Tiga rumah lainnya sudah dalam kondisi rusak dan tidak ditinggali lagi oleh warga setempat. Dua rumah yang masih dihuni juga hanya menunggu ditinggal para penghuninya.
”Saya belum bisa membeli tanah. Kalau bisa beli tanah, saya pasti pindah,” kata Gundar Sinulingga, salah seorang penghuni rumah adat Karo di Desa Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, ketika ditemui Sabtu (4/9) petang. Desa Lingga merupakan desa yang masih mewarisi rumah adat Karo.
Pada zaman dulu, pendirian rumah adat dan pengaturan mereka yang berhak menghuni rumah itu diatur sesuai dengan aturan adat. Jumlah ruangan mencapai empat atau delapan.
Keinginan untuk keluar dari rumah adat juga diungkapkan oleh penghuni lainnya, seperti Dewi Tarigan dan Januarita Sitepu. Mereka akan meninggalkan rumah adat yang sekarang masih ditempati apabila mereka sudah mampu membeli tanah.
Umumnya mereka merasa berumah apabila sudah memiliki tanah dan bangunan tersendiri atau tidak lagi tinggal bersama di dalam rumah adat.
Rumah adat Karo berbentuk rumah panggung dengan ketinggian panggung sekitar 2 meter. Seluruh bangunan terbuat dari kayu dengan atap ijuk. Untuk mengikat kayu dan bambu pada bangunan itu juga digunakan ijuk. Dinding bangunan ini miring ke luar.
Umur persis bangunan ini tidak diketahui, tetapi penduduk memperkirakan 200-300 tahun. Mereka yang tinggal di situ mengaku merupakan generasi keempat dan kelima. Namun, pernyataan ini sulit dikonfirmasi kebenarannya. ”Tiga tahun lalu ijuk diganti karena sudah banyak bocor. Sekarang tak ada lagi yang bocor,” kata Dewi Tarigan. Dua bangunan yang masih ditinggali tampak dicat berwarna-warni dengan ornamen khas Karo.
Tiga bangunan yang rusak tak lagi dicat. Bangunan ini tampak kusam dan kumuh. Sejumlah dinding telah jebol. Warga tidak memedulikan kondisi bangunan itu. Mereka malah mendirikan bangunan yang terbuat dari semen di pinggir bangunan yang hampir rusak. (MAR/MHF)


Sumber: KOMPAS, Selasa, 7 September 2010
Kolom PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN

Rabu, 16 November 2011

Cakap-cakap Aron

Berawal dari tweet kita "Kena kai kam e?"


I juma sisada kel aku, melihe aku kudarami kidu
Maka bage ningku, bagi si sambar kuidah penatap matandu


Rembus angin nina sap so, bergehna berngi ras angin rembus kel ia radu
Serr nina ukurku sap sap so, bujur kel aku enggo iperdiatekenndu


Oh, enda nurung kiam ku bubu, adi lit dua bandu sada bage ateku
Uga nge ningku la mperdiatekenndu, adina kam kel ngenca kira-kirangku


Pinakit kinahun ipepalem bulung si malem-malem, ikuhi ukur situhu
Adi baci kel pusuhku e inehenndu enggo kel menda banndu mambur la erluhu


Simantek kuta erkerja erincet-incet, kerina landek la salah buku
Em, ula pediat ukurndu picet, meriah ukurku adi turikenndu man bangku


Uga nari nge ningku pelayas ukurku, ula kam latih rukur, Kaka..
Labo lit sideban selain dagin bage si merance


Cina sidua-dua ula sungkunndu asakai, baba saja banndu
Andiko ah, kuakap kel ndai kam kena kai, e, nggo mbages berngi e, atur pertunduhndu


Ah oh kutiga aku niar-niar, keri page enggo perani
Ula kam mbiar kaka kekelengenndu kugejapken nemani


Babah la erteman ras nakan, e kel dalanna magin
Entabehlah kari pertunduhndu gelah sikap kita jumpa pagin


-@mejuah_juah

Selasa, 15 November 2011

Usaha Barus: Penjaga Jeruk Karo


Empat hingga lima buah jeruk berjatuhan, begitu tangan Usaha Barus menggoyang sebatang pohon jeruk karo yang ditanam di demplot kebun jeruk organik di Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Jeruk-jeruk tersebut berjatuhan karena buahnya diserang penggerek buah dan lalat buah.

OLEH AUFRIDA WISMI WARASTRI

Saat buah yang jatuh itu dibelah, tampak ulat-ulat kecil menggeliat di dalamnya. "serangan lalat buah dan penggerek buah tahun ini luar biasa," tutur Usaha.
     Setiap kali masuk ke kebun jeruk di Kabupaten Karo, pemandangan buah jeruk berserakan di bawah pohon adalah hal biasa. Tahun ini, jumlah jeruk yang gugur dari satu batang pohon lebih banyak lagi, bisa belasan dalam sehari.
     Jika tahun 2005 masih sekitar  50 persen buah jeruk bisa dipanen meski hama sudah merajalela, kini maksimal hanya 10 persen. Petani harus menanggung kerugian sekitar Rp 40 juta per hektar per tahun.
     Penggerek buah yang menyerupai kupu-kupu mungil berwarna coklat dan putih, serta lalat buah, sebenarnya sudah menyerang buah jeruk di Kabupaten Karo sejak 1980-an.Pada tahun 2005 situasi semakin buruk. Serangan hama itu membuat 50 persen buah gugur. Tahun 2011, enam tahun kemudian, hama belum mampu ditangani, bahkan semakin parah.
     Banyak petani yang kemudian menelantarkan kebun jeruknya. Bahkan, petani mulai menyisipkan tanaman jeruk dengan tanaman cokelat. Secara kasatmata tinggal 15 persen kebun jeruk yang terawat.
     "Jika situasi ini dibiarkan, Karo bakal kehilangan identitasnya sebagai penghasil jeruk," kata Usaha.
     Berbagai upaya dilakukannya untuk menyelamatkan jeruk Karo yang lebih dikenal orang sebagai jeruk Medan itu, berikut lahan pertaniannya. Salah satunya dengan membudidayakan jeruk organik. Kini, sekitar 20 petani mengupayakan jeruk organik di Tanah Karo meskipun masih semi-organik.
     Pola penanganan hama pun organik. Untuk menangani penggerek buah dan lalat buah, Usaha memasang perangkap likat kuning, semacam kertas berwarna oranye yang diberi aroma jeruk dan perekat. Kenapa warnanya kuning? Karena serangga menyukai warna kuning. Di demplotnya, tiap pohon jeruk digantungi likat kuning dan banyak serangga yang terperangkap. 
     Selain itu, tiap pohon jeruk juga digantungi botol plastik bekas minuman. Di dalamnya diisi petrogenol dan gula batu yang diberi warna kuning dan insektisida. Petrogenol untuk  menarik lalat jantan, sedangkan gula batu untuk menarik lalat betina. Pada tiap botol plastik itu tampak puluhan lalat dan penggerek batang terperangkap.
     Petani juga harus mengumpulkan buah-buah jeruk yang jatuh, setidaknya seminggu sekali. Jeruk yang sudah berisi telur dan larva itu harus dimasukkan ke dalam kantong plastik kedap udara sehari-semalam. Ini agar telur dan larva di dalam jeruk mati. Dengan demikian, daur hidup telur dan larva bisa diputus.
     "Kami tengah mengusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Karo agar membuat peraturan daerah supaya seluruh petani menaati," kata Usaha.
    Pasalnya, lanjutnya, menelantarkan kebun jeruk atau membiarkan jeruk yang gugur akan membuat daur hidup hama terus berputar. Bahkan, kebun jeruk yang ditelantarkan bisa menjadi inang bagi hama.

Semakin parah

     Serangan hama makin parah sebab selama ini petani keliru dalam menanganinya. Petani menyemprotkan insektisida pada tanaman. Adapun penggerek buah dan lalat buah hanya ikut bertelur di dalam jeruk. 
     Penggerek buah bertelur pada permukaan jeruk saat jeruk masih hijau. lama-lama, telur akan masuk ke dalam daging jeruk melalui pori-pori jeruk yang lebar. Adapun lalat buah menyuntikkan telurnya ke dalam daging buah jeruk saat jeruk sudah berwarna kuning. Siklus hama penggerek buah terus berjalan meski insektisida disemprotkan.
     Petani melakukan pemberantasan hama tanpa koordinasi karena tenaga penyuluh belum maksimal. Kemampuan petani juga pas-pasan, sementara  kelompok tani terbentuk hanya untuk mendapatkan bantuan.
     Atas dasar itu, pada tahun 2007 hingga 2010 Usaha melatih lebih dari 10.000 petani dari 120 desa di Kabupaten Karo atas biaya USAID Amarta sebesar Rp 3 miliar. Pertanian organik menjadi salah satu tema dalam pelatihan, selain alih teknologi dan budidaya pertanian.
     Ia juga menjadi tenaga konsultan petani jeruk di Tapanuli Utara dan Pakpak Barat, dua kabupaten yang juga mulai mengembangkan jeruk di Sumatera Utara. Ia juga memberikan pelatihan kepada petani di 40 desa di Karo untuk membuatkan demplot cabai dan tomat, sebagai bagian dari program Petani Mengelola Pertanian bantuan Bank Dunia.
     Pelatihan itu terus dilakukan  Usaha karena sumber daya manusia petani lemah. Kegagalan dunia pertanian membuat banyak anak muda enggan menjadi petani. Anak muda Karo yang berpendidikan tinggi dan menempuh pendidikan di Jawa pun enggan pulang menjadi petani.
     Seminggu dua kali, Usaha siaran di radio atas biaya sendiri, untuk memberikan konsultasi kepada petani. "Bangga menjadi petani" adalah moto  yang selalu ia gunakan.
     "Banyak petani yang meminta saya menentukan pupuk atau saprodi yang aman digunakan," kata Usaha. Dia lalu menjadi penyalur pupuk biologi, selain membuat biro konsultan pertanian.

Pensiun dini

     Usaha menjadi petani jeruk sejak 1999. sebelumnya, ia bekerja sebagai  manajer perusahaan perkebunan swasta nasional dengan gaji Rp 17,5 juta per bulan. Keluarganya protes saat dia memilih pensiun dini dan pulang kampung, jadi petani jeruk.
     Ia mendapat pesangon Rp 500 juta. Sebanyak Rp 150 juta di antaranya ia gunakan untuk membantu petani dengan konsultasi gratis, sisanya untuk membeli tanah dan mengupayakan jeruk. Ia memiliki 12 hektar lahan jeruk.
     Menjadi petani adalah cita-cita masa muda Usaha. Lagu Ebiet G Ade "Cita-Cita Kecil Si Anak Desa" yang menginspirasinya. Liriknya, antara lain, berkisah tentang cita-cita anak desa yang ingin menjadi petani, punya kebun dan kandang ternak, syukur-syukur menjadi kepala desa.
     Lagu itu membuat Usaha memutuskan menjadi petani pada usia 40 tahun. Pada 2008 ia menjadi Ketua Masyarakat Jeruk Indonesia, setelah sebelumnya menjadi ketua harian, menggantikan ketua lama yang meninggal dunia.
     Ia sempat dipinang menjadi bakal calon Wakil Bupati Karo tahun lalu, tetapi mundur karena ongkos politiknya amat besar. "Saya enggan masuk politik kalau politik masih pakai uang," ucapnya.

Lahir : Kabanjahe, Sumatera Utara (Sumut), 1 Agustus 1961
Istri : Ida Nuraini Ginting (46)
Anak :
- Gamal Primsa Barus (21)
- Gina Primta Barus (18)
- Ghea Primta Barus (11)
Pendidikan :
- SD Katolik Sei Beras Sekata, Sunggal, Sumut
- SMPN 8 Medan
- SMAN 4 Medan
- S-1 Fakultas Pertanian USU, lulus 1986
- S-2 Pusat Pengembangan Pendidikan Politeknik Pertanian (PEDCA) Universitas Padjajaran, 1988.
Kegiatan:
- Petani jeruk
- Ketua Masyarakat Jeruk Indonesia Sumut, 2008-2011.
- Direktur PT Elim Karo Tani, Konsultan Pertanian dan Saprodi.
- Penyalur Pupuk Biologi di Kabanjahe


Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 15 NOVEMBER 2011 (hal 16, kolom Sosok)