Selasa, 25 Oktober 2011

Cerita Foto [Parade Pakaian Pengantin Khas Karo]

Parade model dari Perlombaan Merias Pengantin Karo dalam acara BKSO (Badan Kerja Seni Olahraga) CUP Permata GBKP Klasis Jakarta-Bandung, pada tanggal 15-16 Oktober 2011 bertempat di GOR Ragunan, Jakarta.


@uthiebaroes

Rabu, 19 Oktober 2011

Berumah di Negeri Cincin Api


TROPENMUSEUM OF THE ROYAL TROPICAL INSTITUTE
/ K Feilberg
 – Rumah adat Karo di Laut Tamar dekat Danau Toba tahun 1870.
Rumah panggung dari kayu itu berdiri menjulang di tengah Desa Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Tiang kayu besar menyangga atap ijuk yang berlumut. Kayu melintang mengikat antartiang. Pasak kayu dan ikatan bambu menjamin keliatan sambungan, agar tak gampang patah saat gempa mengguncang.
Namun, semen yang mengikat tiang-tiang utama rumah dengan fondasi batu telah menafikan segalanya. Bangunan berusia sekitar 250 tahun dan dirancang tahan gempa itu telah kehilangan kekuatannya.
Hingga tiga tahun lalu, tiang-tiang rumah tradisional Karo di Lingga itu masih ditumpukan di atas umpak batu. ”Baru tiga tahun ini fondasinya disemen. Itu proyek bantuan dari pemerintah,” kata Simalem Sinulingga (54), warga Lingga.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo Dinasti Sitepu menjelaskan, proyek itu dikerjakan pada tahun 2009 dengan dana Rp 800 juta, bantuan dari Kementerian Perumahan Rakyat. ”Pengerjaan itu sepenuhnya kami serahkan kepada tukang. Saya baru tahu kalau (fondasinya) disemen semua,” kata Dinasti. Dia berjanji untuk segera mengeceknya. ”Semestinya tidak boleh disemen tiang rumah itu, harus sesuai aslinya.”
Fondasi umpak dalam rumah tradisional Karo merupakan salah satu faktor utama untuk mereduksi gaya lateral gempa, selain material kayu, teknik ikatan pasak, dan kayu melintang yang mengikat antartiang. Dengan sistem fondasi umpak, tiang rumah dapat bergeser apabila digoyang gempa. Pergeseran inilah yang memberikan sifat meredam gempa, yang dalam istilah konstruksi modern dikenal sebagai teknologi base-isolator.



Koen Meyers dan Puteri Watson dalam Legend, Ritual, and Architecture on the Ring of Fire, 2008, menyebutkan, sistem fondasi yang ditumpukan di atas batu pada rumah tradisional bersifat dinamis sehingga lebih tahan menahan gempa. Sistem fondasi umpak ini, yang juga diadopsi oleh berbagai rumah tradisional di Nusantara lainnya, seperti joglo di Yogyakarta dan omo hada di Nias, sengaja diciptakan sebagai kompromi leluhur kita untuk beradaptasi dengan bumi yang kerap dilanda gempa.

Tanah Karo, yang berada di ujung ”Tumor Batak”, merupakan daerah geologi yang ekstrem. Tumor Batak merupakan istilah geolog Belanda, Van Bemmelen, untuk menyebut adanya pembubungan daratan di Sumatera Utara. ”Terjadi pengangkatan dari bawah yang membentuk dataran tinggi, panjangnya 275 km dan lebar 150 km, yang disebut Tumor Batak,” tulis Bemmelen dalam Geology of Indonesia (1949).
Pengangkatan Tumor Batak ini, disebut Bemmelen, menjadi fase awal pembentukan Gunung Toba purba. Saat pembubungan terjadi sebagian magma keluar melalui retakan awal membentuk tubuh gunung. Berbagai penelitian lanjutan menyebutkan, kawasan di Tumor Batak juga diimpit oleh aktivitas tektonik yang hiperaktif karena berada di jalur patahan besar Sumatera. Kombinasi aktivitas tektonik dan vulkanik inilah yang memicu banyak terjadinya gempa bumi di kawasan ini.


Diabaikan
Sayangnya, pemerintah yang semestinya memelihara pengetahuan lokal membangun rumah aman gempa ini ternyata abai dengan tugasnya. Proyek bantuan yang merusak sistem tahan gempa rumah di Desa Lingga ini merupakan cermin ketidakpedulian pemerintah terhadap kearifan lokal.
Selain penyemenan fondasi, rumah-rumah tradisional Lingga lainnya hampir semuanya tak terurus, sebagian besar dibiarkan kosong, dan rusak. Dari enam rumah yang tersisa, hanya dua yang ditinggali warga, itu pun tidak terawat. ”Dulu ada puluhan rumah di sini. Semua roboh karena tak terawat, sekarang tinggal enam rumah,” kata Kepala Desa Lingga Benyamin Ginting.
Para keturunan pemilik rumah memilih tinggal di kota atau memiliki rumah baru yang terbuat dari tembok yang abai prinsip-prinsip tahan gempa. Rumah-rumah tradisional Lingga yang aman dari gempa justru disewakan.
Biasanya, penghuni atau penyewa rumah tradisional itu akan pindah begitu punya rumah baru. ”Fungsi rumah adat tak ubahnya rumah singgah bagi warga miskin yang belum punya rumah. Makanya sulit mengharapkan mereka bisa merawatnya,” tambah Benyamin.
Rumah-rumah tradisional itu pun terus berkurang, roboh satu per satu. Padahal, bersama robohnya rumah-rumah itu, hilang pula pengetahuan lokal tentang strategi adaptasi terhadap kondisi bumi yang rentan gempa bumi.


Teruji
 Antropolog Universitas Sumatera Utara (USU), Juara Ginting, mengatakan, rumah tradisional Karo telah teruji sejarah mampu bertahan terhadao gempa. Saat gempa besar melanda Desa Batukarang, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, pada 1936 dan merobohkan banyak rumah serta membawa banyak korban jiwa, rumah-rumah berkonstruksi umpak inilah yang bertahan. "Sejak saat itu rumah tradisional banyak dibangun," kata dia.


Juara menyebutkan, hingga akhir tahun 1990-an masyarakat Karo yang tinggal di Kabupaten Karo dan Kabupaten Simalungun masih banyak yang mendiami rumah adat. Karena itu, rumah adat tersebut masih terawat dan terjaga kondisinya dengan baik.


Misalnya, di Desa Cingkes, Kecamatan Similiakuta, Simalungun, saat itu masih ada 22 rumah tradisional Karo. Namun, pada tahun 2000-an, tidak satupun rumah yang tersisa di sana. Saat ini, total rumah tradisional Karo hanya tersisa 20-an buah, dan itu pun sebagian tak lagi ditempati, misalnya rumah adat di Desa Melas. Meski bangunannya masih ada, di beberapa bagian, seperti atap dan dinding, terdapat kerusakan. Atap yang terbuat dari ijuk di beberapa bagian telah bocor dan ditumbuhi lumut. Bahkan, di bagian dalam hanya tersisa kerangka utama berupa kayu dari pohoh juhar dan ingul, dua jenis kayu yang dulu banyak terdapat di di hutan sekitar Kabupaten Karo.


Seiring zaman, konstruksi rumah tahan gempa ini banyak diabaikan. Rumah-rumah baru yang dibangun kebanyakan adalah rumah tembok dengan konstruksi seadanya, tanpa memperhatikan aspek-aspek tahan gempa.


Kehilangan rumah adat Karo bukan hanya kehilangan khazanah arsitektur Nusantara yang kaya ragam bentuk, melainkan juga kehilangan pengetahuan lokal yang merupakan hasil dari pergulatan panjang untuk berkompromi dengan geologi yang rentan bencana.
(Indira Permanasari/ Amir Sodikin)




Kompas, Jumat 14 Oktober 2011; hal 24

Memanen Listrik dari Gunung Api


Pipa-pipa raksasa berjalinan. Sebagian menghunjam dalam perut Gunung Sibayak, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Asap putih mengepul bersamaan dengan listrik yang terpompa keluar tanpa henti.

Pipa dari sumur panas bumi milik PT Pertamina Geothermal Energy dengan latar belakang Gunung Sibayak (2.212 mdpl) di Desa Raja Berneh atau Desa Semangat Gunung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Selasa (26/7/2011)

Jika gunung api di Indonesia identik letusan dan bencana, Sibayak merupakan pengecualian. Gunung berketinggian 2.172 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini merupakan sedikit dari gunung api di Indonesia yang telah menjadi ladang listrik bersumber energi panas bumi.
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sibayak di Desa Semangat Gunung dan Desa Doulu itu telah menghasilkan listrik berkapasitas 10 megawatt (MW) dan masih berpotensi dimaksimalkan hingga 40 MW.

Sumur panas bumi tersebut dikelola PT Pertamina Geothermal Energy (PGE). ”Kami bertanggung jawab mengusahakan panas bumi hingga permukaan, sedangkan PT Dizamatra Powerindo yang membangkitkannya menjadi listrik dan menjualnya ke PLN,” kata Sapto Trianggo Nurseto, ahli geosains dari PT Pertamina Geothermal Energy AG Sibayak, saat ditemui di PLTP Sibayak.
Menurut Sapto, prinsip kerja panas bumi mirip dengan memasak air dalam ceret. Dibutuhkan kompor untuk memanaskan ceret agar air di dalamnya mendidih dan memproduksi uap. Uap itulah, dengan suhu dan tekanan tertentu, akan menembus lubang kecil penutup ceret. Dalam perumpamaan ini, kompor adalah batuan panas, lapisan air merupakan reservoir air di bawah batuan, tutup ceret adalah batuan penudung yang menjebak uap air, sedangkan lubang tutup ceret adalah sumur yang harus dibor.
Salah satu isyarat di daerah tersebut memiliki potensi panas bumi adalah keberadaan semburan uap panas (fumarol) dan sumber mata air panas. Tak semua jalur gunung api bisa dibor untuk panas bumi. ”Harus ada syarat batuan panas, reservoir air, dan batuan penudung,” kata Sapto. Dan Gunung Sibayak memiliki semua syarat itu.


Proses pembentukan
Dibelit Cincin Api Pasifik dan diimpit tumbukan tiga lempeng benua yang hiperaktif (Pasifik, Eruro-Asia, dan Indo-Australia), Indonesia memiliki 129 gunung api atau sekitar 30 persen dari total gunung api dunia. Tumbukan lempeng juga membentuk zona subduksi yang panjang, mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, sampai ke Kepulauan Maluku. Di Sumatera, fenomena itu mengakibatkan terbentuknya suatu patahan geser besar (transform fault) yang disebut Zona Patahan Besar Sumatera.
Selama ini, gunung-gunung api dan zona patahan ini lebih merupakan sumber bencana. Padahal, selain limpahan abu vulkanik yang menyuburkan tanah, gunung api dan zona patahan juga menjadi ladang bagi energi panas bumi. ”Zona patahan berpotensi bagi terbentuknya tungku pemanas alami di dalam bumi,” papar Sapto.
Indonesia memiliki potensi panas bumi 40 persen dari cadangan dunia atau mencapai 28.000 MW. Potensi ini merupakan yang terbesar di dunia. Perkiraan itu dari perhitungan setelah mengebor sekitar 244 sumur energi panas bumi dari Aceh sampai Irian Jaya. Namun, potensi itu baru dimanfaatkan sekitar 1.332 MW (4,7 persen dari potensi yang ada), yang menempatkan Indonesia di bawah Filipina (2.000 MW) dan Amerika Serikat (2.700 MW).
Padahal, jika dioptimalkan, Indonesia bisa menjadi negara superpower energi. Tak kurang dari penerima Nobel Perdamian 2007, Al Gore yang mengemukakan hal itu. ”Indonesia bisa menjadi negara superpower energi listrik panas bumi yang memberi manfaat ekonomi bagi Indonesia,” kata Al Gore, dalam pembukaan ”The Climate Project Asia Pacific Summit”, di Balai Sidang Senayan, Jakarta, awal tahun lalu.
Menanggapi pernyataan Al Gore, mantan Kepala Direktorat Vulkanologi dan Geotermal Dirjen Geologi Sumber Daya Mineral Subroto Modjo bersemangat, tetapi kemudian tertawa. ”Betul, enggak salah. Tetapi sepanjang menyangkut potensi yang kita miliki. Kalau menyangkut yang dimanfaatkan, kita jadi malu ha-ha,” katanya.
Subroto adalah salah satu orang yang bertanggung jawab atas pengembangan energi panas bumi pertama kali di Indonesia, yang aktif pada rentang 1974-1988. PLTP pertama kali diresmikan pada tahun 1983 di Kamojang dengan kapasitas terpasang 30 MW.
Indonesia termasuk telat menseriusi energi panas bumi. ”Kita baru merasa perlu mengembangkan panas bumi setelah terinspirasi Selandia Baru yang berhasil dengan panas bumi mereka,” katanya.
Dengan potensi yang ada, ungkapan Al Gore sebenarnya bukanlah isapan jempol. Namun, hingga kini, komentar itu hanya menjadi sindiran, dari kebijakan Indonesia yang lebih memilih mengeruk energi hitam batubara yang masih menjadi primadona.
Volume batubara yang dibakar pada semester I-2011 naik 12 persen dibandingkan dengan semester I-2010. Kini, bauran energi PT PLN pada semester I-2011 adalah batubara (43 persen), bahan bakar minyak (24 persen), gas (21 persen), air (7 persen), dan panas bumi hanya 5 persen.
Belakangan, energi nuklir malah kian dilirik. Ketika Jepang, negara terbaik dalam pengelolaan nuklir, ”menyerah” dengan nuklir dan mematok target agar tahun 2030 semua rumah tangga memanen energi matahari, Indonesia justru mematok target pembangkit tenaga nuklir.


Energi Bersih
Berbeda dengan pembangkit lain, PLTP relatif bersih dari emisi dan bisa diperbaharui. Gas-gas beracun tetap ada, tetapi dengan konsentrasi yang aman.

Sumber daya untuk mempertahankan PLTP yakni batuan panas dan cadangan air relatif terbarui. Untuk batuan panas, tak diragukan lagi ketersediaannya sepanjang tahun oleh alam. Adapun cadangan air terpelihara karena uap air yang telah dimanfaatkan menggerakkan turbin, kembali menjadi air dan dapat diinjeksi kembali ke dalam bumi.

"Jadi ini sebuah siklus." kata Sapto. Ketika sudah berhasil memanen, seterusnya bisa dimanfaatkan tanpa harus membeli bahan bakar lagi karena bahan bakar disediakan alam.

Sapto menambahkan secara keteknikan tidak ada kendala dalam mengeksplorasi potensi panas bumi di Indonesia. Nilai investasinya, yaitu sekitar 7 juta dollar AS, juga masih dinilai menguntungkan. "Berbeda dengan minyak yang cadangannya terbatas dan bisa habis. Untuk panas bumi cadangannya nyaris tak terbatas," kata dia.

Sejauh ini, menurut Sapto, banyak investor asing yang tertarik mengeksplorasi energi panas bumi di Indonesia, utamanya Jepang. "Yang menjadi kendala adalah perizinan. Pasalnya, sebagian besar potensi panas bumi kita tumpang-tindih dengan kawasan hutan," kata dia.

Butuh keberpihakan untuk mengoptimalkan energi panas bumi Indonesia agar gejolak geologi yang hiperaktif di bawah bumi kita tidak hanya mengirim petaka, tetapi juga kemakmuran bagi rakyatnya.

Kompas, Jumat, 14 Oktober 2011

Bertarung ke Puncak Petarung

mendaki gunung sinabung
“Awas batuuuuu…,” teriakan keras itu memecah malam sunyi. Dengan bantuan sinar senter, mata liar mencari arah jatuhan batu. Badan bergeser ke tubir tebing, sementara tangan erat mencengkeram akar pepohonan.
Tiba-tiba terdengar suara tak kalah keras, “Aduuuh.” Salah seorang porter, yang berada beberapa langkah di depan, rupanya terlambat menghindar. Tangannya terbentur batuan longsor. Untung hanya terluka kecil.
Walau “hanya” berketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut, pendakian ke Sinabung tidaklah mudah. Batuan rapuh, cadas licin berselimut lumut, dan tanjakan berkemiringan 75 derajat menemani perjalanan, 26 Juli lalu. Demi mengejar matahari terbit di puncak, perjalanan malam pun ditempuh.
Lau Kawar
Sehari sebelum pendakian, Puncak Sinabung diselimuti asap tebal. Digolongkan sebagai gunung api Tipe B—karena tak aktif sejak tahun 1600—Sinabung tiba-tiba meletus, 29 Agustus 2010. Letusan itu menaikkan status Sinabung menjadi Tipe A dan dipantau intensif.
Letusan itu juga menumbuhsuburkan ritual terkait gunung. Jejak ritual berupa sesaji terlihat di sepanjang jalur pendakian, biasanya berupa jeruk peras, daun sirih, dan rokok.
Pendakian diawali dari Danau Lau Kawar. Danau seluas 200 hektar yang siang hari begitu indah berubah misterius pukul 00.30. Pikiran pun melayang pada legenda danau tersebut.
Konon, sebelum jadi danau, Lau Kawar merupakan lahan pertanian. Hiduplah satu keluarga petani. Silih berganti anggota keluarga menunggu ladang, hingga siang itu tiba giliran sang nenek. Sebagaimana biasa, cucunya, Kawar, mengantarkan makanan.
Namun, dalam perjalanan, Kawar kelaparan. Tanpa pikir panjang disantapnya jatah nenek hingga tersisa tulang. Nenek kecewa ketika menemukan bekalnya tanpa lauk-pauk lagi.
Sambil menangis, ia berkata, “Daging pun aku sulit mengunyah, kenapa cucuku tega memberi tulang. Seakan aku tidak berguna lagi di dunia.”
Seketika itu juga hujan lebat turun, disertai petir. Banjir melanda, menenggelamkan Kawar, nenek, dan lahan pertanian sehingga terbentuklah danau yang dinamakan Lau Kawar.
Moral cerita ini barangkali untuk mengingatkan agar menghormati orang tua dan jangan serakah. Namun, di baliknya ada upaya merekonstruksi penciptaan danau. Antropolog dari Universitas Pittsburgh, Pamela J Stewart dan Andrew Strathern, dalam Landscape, Memory and History: Anthropological Perspectives (2003) menyebutkan, formasi alam yang unik, seperti gunung, danau, dan sumber air panas, kerap dikeramatkan. Pantangan dibuat demi menghormati ruang sakral itu.
“Saat mendaki Sinabung, tak boleh berpikir dan berucap kotor, membakar babi atau anjing, karena akan mendatangkan bencana,” kata Sidarta, pemandu pendakian.
Bagi orang Karo, Sinabung bukan sekadar gunung. Dia juga ruang spiritual, yang jejaknya terekam dari sejumlah sesajen di jalur pendakian. Antropolog dari Universitas Sumatera Utara, Sri Alem Sembiring, mengatakan, orang Karo percaya tendi yang mengisi alam semesta. Ritual dilakukan jika terjadi ketidakseimbangan antara tubuh dan tendi. Keseimbangan alam terganggu jika inti kehidupan, seperti tanah, air, dan udara, terusik. Ritual berfungsi menjaga keseimbangan makrokosmos agar tidak terjadi bencana.
Sang petarung
Bertolak dari tepi danau itu, kami mendaki ke puncak. Tidak banyak yang dilihat lantaran gelap. Satu jam mendaki, pepohonan lebat dengan akar menghalangi digantikan bebatuan cadas yang terbentuk dari lelehan lava. Jalan semakin terjal.
Batu-batuan longgar dengan mudah tercongkel dan gugur. Sebelum berangkat, petugas pos pemantauan Sinabung, Armen Putra, mengatakan, aktivitas Sinabung stabil dan aman didaki. Hanya saja, pendaki harus berhati-hati dengan kemungkinan runtuhan batu. Sinabung memang tak bisa diremehkan. Selain jalan terjal, bebatuannya pun rapuh dan mudah longsor.
Tak heran, Sinabung disebut “gunung petarung”. “Ada kepercayaan, jika mau sukses dalam hidup, dakilah Sinabung,” ujar Ita Sembiring, budayawan Karo.
Tiga setengah jam mendaki, kami tiba di area lapang, hanya 10 meter dari puncak. Hari masih gelap. Kami tiba satu jam lebih awal dari jadwal. Kabut tebal turun. Angin menderu kencang, membawa gigil dingin. Kami menunggu di tanah lapang itu, menggelar mantel dan membungkus tubuh dengan pakaian tebal yang dibawa.
Pukul 05.30, langit tetap gelap. Setengah jam berlalu, suasana tak berubah. Kami memutuskan menuju puncak. Berdiri di Puncak Sinabung, seperti tegak di atas awan. Matahari nyaris tak terlihat, bersembunyi di balik kabut. Kami bertahan, menunggu alam bermurah hati membuka diri.
Hanya sekelebatan kabut menyingsing. Tak cukup memberi waktu untuk mengabadikan panorama menawan.
Sinabung memberi kami pelajaran penting, gunung ini sulit diduga dan tak boleh diremehkan

Kompas, Sabtu 15 Oktober 2011

Nasib Disandarkan pada HT dan HP


Malam menjelang. Puncak Sinabung yang mengepulkan asap tebal baru saja lenyap dari pandangan. Senyap menaungi Desa Bekerah, Naman Teran, Karo, Sumatera Utara. Di rumah, sang kepala desa, Naik Sembiring, sibuk mengontak rekannya menggunakan radio panggil.
”Kepala Desa Suka Meriah masuk... Uruk 4... masuk,” suaranya memecah sunyi. Berkali-kali memanggil, tak ada sahutan. Hanya suara gemeresak.
”Kepala Desa Sigarang-garang masuk...,” Naik Sembiring memanggil kepala desa lain. Tak ada jawaban.
Tiba-tiba lampu mati. Gelap seketika menyelimuti. Naik tak menyerah. Ia tetap berupaya mengontak rekannya. ”Di sana lampu mati atau tidak, ya?” ujarnya.
Kali ini terdengar jawaban dari seberang, ”Silakan Kepala Desa Bekerah. Di sini mati lampu juga.” Keduanya kemudian terlibat obrolan tentang listrik yang kerap mati.
”Rupanya karena mati lampu jadi tidak ada kerjaan, ya. Baruhidupkan HT,” komentar Naik Sembiring, yang semula sebal panggilannya diabaikan rekan-rekannya.
Sejak Gunung Sinabung yang berketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut itu tiba-tiba meletus pada 29 Agustus 2010, Naik rajin bertukar kabar dengan kepala desa lain melalui radio panggil alias handy talky (HT) mengenai situasi teranyar Sinabung. Radio panggil tersebut pemberian Pemerintah Kabupaten Karo kepada kepala desa di radius 6 kilometer dari puncak agar berkoordinasi jika terjadi letusan Sinabung.
Setiap kepala desa, menurut Naik, memiliki nama sandi mulai dari Uruk (kampung) 1 hingga 30. Namun, dari 30 HT yang dibagikan, hanya separuh yang diaktifkan. ”Beberapa kepala desa sama sekali tak pernah menghidupkan HT-nya,” katanya.
Naik mengatakan, sebagian rekannya merasa malu menggunakan HT.
Kepala Desa Suka Meriah Amin Ginting punya alasan enggan menggunakan HT. ”Baterainya sudah nge-drop, hanya bertahan dua jam,” katanya. ”Padahal, sebenarnya, saya ingin berkomunikasi dengan kepala desa lain dengan HT itu.”
Bagi Naik dan kepala desa yang lain, berkomunikasi dengan HT merupakan hal baru. Oleh karena itu, sebagian enggan menggunakannya. Namun, demi keselamatan diri dan warganya, Naik antusias menggunakan HT. Ia bahkan rela merogoh kocek sendiri untuk membeli pengeras suara. ”Jika terjadi letusan lagi, akan lebih mudah menginformasikan dan mengevakuasi warga,” ujarnya.
Sumber informasi
Naik kini terbiasa mengamati gunung, yang berjarak 33 kilometer dari tepi Kaldera Toba, yang sebelumnya tak pernah meletus itu. Begitu melihat perubahan di Gunung Sinabung atau terjadi gempa, biasanya ia langsung menghubungi Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung, Jawa Barat, guna mendapatkan informasi.
Ia baru merasa yakin bahwa informasi itu datang langsung dari pusat. Terkadang, warga ikut mendesaknya mencari informasi langsung dari Surono.
Lantas bagaimana jika kebetulan Pak Surono tidak bisa menjawab panggilan? Naik tak bisa menjawabnya. Mitigasi bencana mengandalkan satu atau dua orang saja pasti memiliki banyak titik lemah.
Walaupun sejak Sinabung meletus statusnya dinaikkan dari gunung api Tipe B—dengan alasan tercatat belum pernah meletus sejak 1600—menjadi Tipe A, infrastruktur pemantauan di sana lambat siap. Setahun berlalu, petugas pos pemantauan Gunung Sinabung, Armen Putra, belum mempunyai kantor tetap.
Armen dan dua rekannya yang bertugas memantau Gunung Sinabung harus menyewa rumah warga di Desa Ndokum Siroga, Simpang Empat, Karo. ”Ini pos sementara. Kami masih mengusahakan ada pos pemantauan tetap,” ujar Armen.
Sampai saat ini, masih banyak warga yang tidak mengetahui keberadaan pos pemantauan ini. Akibatnya, pantas saja banyak kepala desa yang langsung menghubungi Surono.
Bukan hanya soal aliran informasi yang masih terpusat pada satu orang, menurut Naik, melainkan jalur dan prosedur evakuasi juga belum jelas. Ia khawatir pengalaman buruk saat letusan Gunung Sinabung tahun lalu terulang kembali.
Naik mengisahkan, saat itu terjadi kekacauan dalam evakuasi. Keluarga terpencar, anak-anak kecil terpisah dari ibunya. Tempat pengungsian tak mampu menampung luapan pengungsi.
Pengalaman itu mestinya menjadi momentum mengenalkan mitigasi bencana dalam perbendaharaan budaya masyarakat di lereng tersebut.
Namun, tampaknya itu tidak terjadi. Setelah Sinabung kembali tenang, kenangan buruk seakan terlupakan. Secepat hilangnya abu putih yang pernah total menyelimuti desa tersebut, secepat itu pula warga memadati desa-desa mereka, yang sebetulnya berada di dalam kawasan rawan bencana. Selain HT dan nomor telepon seluler (HP) Surono, nyaris tak ada hal baru yang dilakukan untuk membuat warga lebih waspada menghadapi letusan Sinabung.
”Tak banyak pengetahuan tentang antisipasi bencana yang diberikan kepada warga,” kata Naik. Informasi tentang evakuasi, menurut dia, baru diberikan ke tiga desa. Itu pun sebatas ditunjukkan harus lari ke mana jika Sinabung meletus lagi. Tidak ada pemasangan papan-papan petunjuk jalur evakuasi, apalagi perbaikan jalurnya. Padahal, terdapat jalan-jalan buntu yang berujung di sungai atau jurang di desa tersebut.
Menanamkan suatu budaya dan kesadaran baru, termasuk tentang mitigasi bencana, memang tidak mudah, tetapi harus dimulai sebelum Sinabung terbatuk-batuk lagi....
(Amir Sodikin/Ahmad Arif)


Kompas, Kamis 13 Oktober 2011

Bangkitnya Ritual Orang Gunung


Tambah Tarigan (70) duduk takzim dengan lutut ditekuk. Sirih dan tembakau tersaji di depannya. Kedua tangan keriputnya menyatu di depan dada. Suasana hening. Tiba-tiba tubuhnya bergetar. Hanya sesaat, lalu kembali diam.
Orang-orang di dalam rumah panggung kayu itu tegang menantikan adegan berikutnya. ”Nggo reh nini, kai penungkunen kena (Nenek sudah datang. Kalian mau tanya apa)?” suara Tambah memecah keheningan.
Tiga pemuda desa yang duduk mengitari Tambah lalu bertanya. ”Apakah Sinabung akan meletus lagi?” ujar Sabirin Manurung, pemuda yang biasa menjadi pemandu pendakian.
Mata Tambah terpejam. Suara gemeresak seperti radio rusak keluar dari tenggorokan, sementara bibirnya terkatup. Setelah suara gemeresak berhenti, Tambah berujar, ”Kata ’mereka’, Sinabung tidak akan meletus lagi. Aman.” ”Mereka” yang dimaksud adalah roh-roh leluhur di Sinabung.
”Kenapa tahun lalu Sinabung meletus?” ujar Sabirin lagi. Suara gemeresik kembali terdengar dari tenggorokan Tambah. ”’Mereka’ marah. Warga menambang batu dan melukai ’mereka’. Warga sudah meninggalkan ’mereka’ dan tidak mau mengadakan upacara lagi,” ujar Tambah.
Bagi Tambah, Sinabung bukan hanya batuan. Ia sosok hidup, bisa terluka dan marah. Asap putih yang mengepul dari puncak Sinabung ibarat embusan napas roh-roh gunung.
Roh yang semula tertidur tenang itu bangkit sejak setahun lalu. Sinabung, yang tak pernah tercatat aktif, tiba-tiba meletus pada 29 Agustus 2010. Letusan gunung juga memicu kembalinya kepercayaan tradisional.
Kembali marak
Hanya beberapa hari setelah letusan, para guru si baso disibukkan berbagai upacara. Tambah, misalnya, diminta turut memimpin ritual pemberian sesaji berupa rokok, bunga, dan hasil bumi di dekat Danau Lau Kawar, yang berada persis di kaki Sinabung.
Ritual juga diadakan di Desa Guru Kinayan, Kecamatan Payung, dan di Desa Kuta Rakyat, Kecamatan Naman Teran. Seekor kambing putih dan lembu dilepaskan di kaki gunung sebagai persembahan.
Ritual hampir dilakukan sepanjang tahun. Warga biasanya segera mengadakan ritual jika merasa menemukan keganjilan. Seperti yang terjadi di Desa Guru Kinayan, pertengahan Juli 2011.
Beberapa warga mengaku melihat sarilala, semacam bola api, melintasi desa mereka. Khawatir terjadi musibah, terutama karena gunung meletus, warga menaruh sesaji di tempat keramat, seperti sumber air, pohon besar, dan makam kuno.
Guru si baso didaulat menjadi medium untuk meminta kepada roh leluhur. Puluhan warga lalu berduyun-duyun menuju jambur, tempat mereka menari-nari diiringi gendang. Aparat desa pun turut serta dalam ritual tersebut.
Salah seorang warga, Harapan Sembiring (60), turut dalam upacara itu karena berharap desanya tak terkena petaka. Ritual itu juga membawa manfaat lain. Upacara yang dipersiapkan dengan gotong-royong telah membangkitkan kebersamaan. ”Orang-orang tua juga berpesan dalam upacara tadi supaya warga akur, saling tolong, dan berbuat baik,” ujarnya.
Sebelum letusan Sinabung, ritual tradisional sulit ditemui. Rita Smith Kipp, antropolog dari Kenyon College, dalam bukunya, Dissociated Identities Ethnicity, Religion, and Class in an Indonesian Society, 1993, menulis, ritual skala besar mulai jarang dijumpai di Karo sejak 1970-an. Redupnya ritual ini, menurut Rita, tak lepas dari kian banyaknya orang Karo yang memeluk agama formal.
Memudar bukan berarti hilang. Antropolog dari Universitas Sumatera Utara, Sri Alem Sembiring, sejak lama mengamati peran guru si baso sebagai penjaga tradisi. ”Masyarakat memang jarang mengadakan upacara, tetapi kelompok tabib dan guru rutin melakukan ritual di tempat keramat,” ujarnya.
Namun, Sri Alem menangkap perbedaan ritual yang dilakukan sebelum dan sesudah letusan. Sebelum letusan, ritual tidak khusus ditujukan atau terkait gunung. Alasannya, selama ratusan tahun Sinabung tidak pernah meletus sehingga masyarakat tidak lagi memiliki memori yang menakutkan terhadap gunung.
Ketika Sinabung meletus, berbagai ritual yang dasarnya pemberian sesaji alias ercibal untuk tolak bala itu difokuskan ke Sinabung.
Ritual-ritual ini dipimpin guru si baso yang menjadi penghubung antara warga dan roh. Guru diyakini memiliki pengetahuan tentang alam semesta yang berasal dari Yang Kuasa. Mereka juga berfungsi sebagai biak penungkunen, tempat meminta penjelasan dan sehat atas peristiwa aneh yang dialami.
Di sisi lain, warga mengalami krisis kepercayaan terhadap ilmuwan dan pemerintah, yang dianggap gagal memperingatkan soal letusan Sinabung, yang tiba-tiba terjadi. ”Masyarakat berpikir, geolog saja bisa keliru. Itu berarti ada rahasia yang tak terungkap,” ujarnya.
Warga kemudian memilih pasrah dan menyerahkan ”rahasia alam” itu kepada guru si baso. Kepasrahan dan ritual ini menjadi perlindungan dari segala kerumitan fenomena alam yang tak terjelaskan.
Itu pula yang mendorong tiga pemuda desa memilih mendengarkan gemeresik suara dari tenggorokan Tambah Tarigan ketimbang datang ke Pos Pemantauan Gunung Api Sinabung. (Mohammad Hilmi Faiq/Amir Sodikin)


(KOMPAS, Jumat 14 Oktober 2011)

Selasa, 11 Oktober 2011

Ada apa dengan "Erlajang"

Erlajang menjadi fenomena yang populer bagi hampir seluruh masyarakat daerah. Orang Batak, Padang, dan masih banyak etnis lagi bahkan mempunyai tradisi seperti ini yang sangat kental. Ketika seseorang sudah masuk ke umur dewasa, maka seseorang itu akan pergi meninggalkan tanah kelahirannya menuju kota yang dianggap lebih banyak pilihan, kesempatan untuk mengadu nasib. Erlajang sendiri dari jaman ke jaman, berbeda bentuk dan ceritanya. Kalau dulu mungkin erlajang menuju kota kebanyakan untuk bekerja, sekarang mungkin lebih banyak untuk belajar, melanjutkan studi meski yang erlajang dengan tujuan bekerja tetap masih ada. Erlajang, bahasa Karo dari merantau.


Budaya erlajang ini ada dengan banyak cerita, dan terus penuh dinamika. Kalau ditanya mengapa erlajang, banyak alasan dan pertimbangan sesuai dengan waktu dan kondisinya. Harapan yang membawa anak-anak muda ke kota dan "tekanan" dari kuta memantapkan hati untuk erlajang.


Masalah - menurut banyak orang - tidak meratanya "harapan" di tempat-tempat di Nusantara lebih asik dibicarakan di ruang yang lain. Memandang erlajang sebagai "teks" yang akan ditelaah, memang menarik, seperti menariknya cerita kehidupan.


Di tempat perlajangan apa yang dilakukan? Apa bedanya dengan yang dilakukan di kuta, jika tidak erlajang?


Mencoba memandang sebagai orang yang memandang budaya erlajang ini dari luar, erlajangnya berhasil hanya jika dia kerja keras dengan ibu kota berserta isinya. Jika dibalik, apakah sama berhasilnya dengan Ibu kota yang mantap tapi tidak bekerja mantap?


Orang yang erlajang mengadu nasib, bekerja mati-matian, banting tulang, menahan rindu. Di kota mempertaruhkan semuanya, ditambah lagi prinsip mela mulih adi la rulih yang berarti sangat memalukan bila pulang tanpa hasil. Erlajang dihiasi penuh perjuangan, seolah tak akan ada lagi kesempatan kalau tidak sekarang, bahkan pilihannya seperti hidup atau mati.


Bertaruh di meja judi partai besar memberi kemungkinan lebih besar. Kemungkinan menang, sekaligus kemungkinan kalah. Tak seutuhnya seperti meja judi, erlajang menjadi sama saja dengan tinggal di tempat semula, dengan usaha sama.


Pemain baru dan berpengaruh dalam dunia bernama teknologi memberikan kesempatan sama untuk berusaha. Sudah banyak cerita walau di daerah biasa, tapi dengan usaha luar biasa, membuktikan ngian kuta tidak lebih buruk daripada erlajang.


Bila masalah tidak meratanya kesempatan menjadikan orang berbondong-bondong erlajang maka, erlajang semakin menguatkan masalah tersebut. Erlajang dengan tumpukan harapan yang menggiurkan akan semakin membuat kuta tertinggal. Masalah untuk mengatasi masalah.




Kesempatan, harapan yang dimangsa setiap hari. Bersama-sama dirajut dengan desain mimpi. Erlajang hanya nama, itu cuma usaha yang bukan mustahil dilakukan di kuta.

Presiden Berbicara [tentang] Karo


Pernah ada acara  MALAM ANUGERAH SENI DAN MBURO ATE TEDEH TAHUN 2007 yang dilaksanakan di JAKARTA CONVENTION CENTRE pada tanggal 8 JULI 2007
Menjadi salah satu acara yang spesial saat acara pagelaran seni budaya Karo, terlebih dengan hadirnya Presiden Republik Indonesia.

Patut dihargai dan diperhatikan sambutan khusus Presiden RI yang bisa dilihat di Video ini.

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu¡¦alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Mejuah-juah,
Yang saya cintai Saudara MS. Kaban, Saudara Sudi Silalahi,
Yang saya muliakan para Sesepuh dan pada Tokoh Masyarakat Karo, baik
Tokoh Budaya, Tokoh Adat, Pemuka Agama, Pengusaha, Cendekiawan dan
berbagai Pemuka, berbagai cabang profesi masyarakat Karo yang hadir
pada malam hari ini,
Yang saya cintai dan saya sayangi Keluarga Besar Masyarakat Karo,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Malam ini kita bersyukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas
rahmat dan karunia-Nya, kita dapat bersama-sama menghadiri Malam
Anugerah Seni dan Mburo Ate Tedeh 2007 di Jakarta Convention Centre
.
Saya ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini untuk
menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang setinggi-tingginya
kepada Yayasan Bengkel Seni 78, beserta segenap masyarakat Karo atas
terselenggaranya acara ini. Semoga Malam Anugerah Seni ini dapat
memacu kreativitas para seniman dan dapat meningkatkan apresiasi
kita terhadap keanekaragaman seni budaya di tanah air.
Hadirin yang saya hormati,
Sungguh merupakan kebahagiaan bagi saya dapat berkumpul dan ber-
silaturahim bersama-sama para Tokoh Adat dan Masyarakat Karo. Saya
mengenal dengan baik masyarakat Karo sebagai masyarakat yang
memiliki kekayaan budaya, tradisi, dan adat istiadat yang khas dan
unik, masyarakat yang teguh dalam pendirian, mandiri dan suka
bekerja keras
. Diantara para sesepuh dan senior, ada yang sewaktu
saya masih berdinas di TNI, Bapak Arifin Tarigan salah satu mentor
saya yang ikut mendidik saya. Oleh karena itu, saya tahu karakter
seperti ini, ada pada masyarakat Karo, pemimpin-pemimpin yang
berasal dari Karo.
Salah satu karakter masyarakat Karo yang patut kita banggakan adalah
mudah-mudahan tidak salah baca Rakut Sitelu Merga Silima Tutur
Siwaloh sebagai sikap kekerabatan khas yang sangat mengedepankan
harmoni, persaudaraan, dan toleransi. Sifat demokratis dan inklusif,
sifat mudah menyesuaikan diri dan sikap berpegang teguh pada prinsip-
prinsip moral dari keluhuran adat dan budaya telah melahirkan nilai-
nilai budaya khas Masyarakat Karo
. Dengan karakter inilah Saudara-
saudara, Masyarakat Karo dapat berinteraksi dengan mudah dan bergaul
bersama kelompok etnis lain di seluruh tanah air. Dengan karakter
ini pula, banyak tokoh, baik politik, birokrat, pengusaha maupun
akademisi yang lahir dan berasal dari masyarakat Karo.
Hadirin yang saya muliakan,
Kita patut bersyukur, bahwa bangsa kita dianugerahi oleh Tuhan Yang
Maha Kuasa dengan keanekaragaman budaya yang diwariskan dari
generasi ke generasi. Potensi yang sangat besar itu haruslah kita
kembangkan dan kita kelola sebaik mungkin, agar menjadi kekuatan
yang nyata, kekuatan bangsa kita. Kekuatan yang dapat memberikan
kontribusi bagi pembangunan dalam rangka meningkatkan kemakmuran dan
kesejahteraan rakyat.
Di tengah-tengah terpaan budaya asing yang masuk ke tanah air,
kekayaan budaya bangsa kita harus menjadi pilar utama dalam
menangkal pengaruh negatif yang menyertainya. Kekayaan budaya kita
harus menjadi penyaring atau filter masuknya nilai-nilai budaya
asing yang tidak sesuai dengan karakter budaya kita. Kita memang
harus menangkal dan mencegah masuknya nilai-nilai budaya asing yang
tidak sesuai dengan nilai-nilai kepribadian bangsa kita. Sebab, kita
ingin membangun masyarakat yang hidup di atas kepribadian sendiri,
kepribadian Indonesia. Masyarakat yang kokoh berdiri dan tidak
terombang-ambing oleh perubahan dan kemajuan zaman.
Sementara itu, dalam era globalisasi ini nilai-nilai budaya asing
yang membawa kebaikan dan yang sesuai dengan nilai-nllai budaya
bangsa kita, kita jadikan pendorong dalam proses percepatan
pembangunan. Nilai-nilai budaya luhur yang penerapannya dikemas
dalam semangat kekinian akan mendorong kita semua untuk tumbuh maju
dan berkembang. Nilai budaya yang berorientasi ke masa depan
mengandung disiplin yang tinggi dan penuh tanggung jawab, memiliki
kemampuan berinovasi, serta menghargai hasil karya orang lain dan
percaya terhadap kemampuan sendiri adalah nilai-nilai budaya luhur
yang harus ditanamkan dan diwariskan kepada generasi penerus kita
selanjutnya. Dengan mengedepankan nilai-nilai budaya luhur seperti
itu, insya Allah kita akan dapat menyongsong hari esok yang lebih
cerah dan menghasilkan budaya kreatif yang penuh inovasi dan
inklusif.
Saudara-saudara,
Perkembangan seni budaya dari berbagai suku bangsa harus kita
upayakan, agar dapat menjadi daya tarik dan nilai jual pariwisata di
tanah air. Industri pariwisata yang tengah kita galakkan tidak
mungkin tumbuh dan berkembang, jika kita tidak dapat mengemas
kekayaan seni budaya dalam suguhan karya seni yang menarik
. Di
berbagai kesempatan saya jelaskan, dunia sedang memasuki gelombang
ke-4 peradaban bangsa. Pada era seperti itu, kita harus membangun
salah satu cabang ekonomi yang sering saya sebut dengan ekonomi
warisan, heritage economy, yang mengembangkan budaya, seni, kekayaan
sejarah dan berbagai warisan yang di negeri kita ini amat banyak
jumlahnya.
Kita harus menjemput masa itu dengan secara cerdas
mengembangkan kebesaran yang dimiliki oleh bangsa kita, sehingga
akhirnya bisa membawa kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.
Saya menyambut gembira pagelaran seni budaya Karo yang ditampilkan
pada Malam Anugerah Seni ini. Kita dapat menikmati kekayaan budaya
kita yang menarik, khas, dan unik, yang tidak akan ditemukan di
tempat lain. Tarian yang meriah dan nyanyian Batak yang khas telah
lama mewarnai khasanah budaya bangsa kita.
Dan akhirnya Saudara-saudara, mengakhiri sambutan ini, saya mengajak
kepada segenap masyarakat di tanah air untuk melestarikan budaya
kita sebagai wujud penghargaan dan perwujudan cinta tanah air
. Saya
yakin kebudayaan nasional yang tangguh hanya dapat dibentuk oleh
pilar-pilar kebudayaan lokal dan daerah yang kuat. Marilah kita
tumbuh kembangkan budaya lokal, agar menjadi kekayaan budaya bangsa.
Kepada para tokoh adat dan budaya di tanah air, saya berharap dapat
mempertahankan dan mengembangkan adat istiadat dalam budaya lokal.
Ambillah nilai-nilai yang positif dan relevan dalam mengatasi
tantangan zaman, ciptakanlah kehidupan yang harmonis, yang akan
membentuk sebuah masyarakat yang kokoh, tangguh, dan penuh
toleransi.
Akhirnya, kepada Saudara-saudara penerima anugerah seni pada malam
ini, saya ucapkan selamat. Semoga penghargaan itu dapat terus memacu
peningkatan kreativitas dan karya seni Saudara-saudara. Demikianlah
sambutan saya, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT senantiasa
memberikan bimbingan, petunjuk dan lindungan-Nya kepada kita
sekalian.
Sekian. Terima kasih.