Tampilkan postingan dengan label Identitas Karo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Identitas Karo. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Januari 2012

KOIN SIMBOL GOTONG ROYONG UNTUK PENYELAMATAN ASET BUDAYA NUSANTARA DI TANEH KARO SIMALEM


Sebuah catatan dari pejuang...


Salam Mejuah-juah,
Sangat sayang tuk dilewatkan,
Mari sejenak serius, merenung dan berbuat secepat mungkin sebelum terlambat...


Sebuah peluang yang besar sesungguhnya bagi generasi muda Karo ketika sebagian besar orang Karo hanya mempertanyakan bagaimana sikap orang Karo sebagai pemilik, pewaris dan pengguna budaya sekarang ini tidak mengindahkan solusi atas masalah krisis wisata budaya khususnya keberadaan bangunan tradisional Karo. Pada proses restorasi rumah adat Karo di Melas, sangat terlihat kekompakan antara masyarakat dengan panitia dan relawan khususnya karang taruna, karena gerakan koin ini bukan semata-mata hanya untuk mengumpulkan dana untuk perbaikan rumah adat Karo saja, akan tetapi untuk membangun kembali rasa kepedulian, kecintaan dan kebersamaan antar masyarakat. Suatu hal yang luar biasa ketika bekerjasama dengan masyarakat setempat dan tanpa memperoleh imbalan, melainkan mereka rela mengambil bahan yang diperlukan untuk restorasi tersebut seperti bambu, membawa alat dan bahan dari simpang melas, memfasilitasi penginapan dan tempat mandi serta bahan makanan (sayur mayur) untuk relawan selama restorasi tersebut. Suatu bukti nyata, berbuat tanpa banyak tanya, berbuat  tanpa banyak bicara, dan bertindak tanpa banyak kata, itu yang kita harapkan ketika setiap orang yang ingin membantu hendaknya lahir dari kesadaran yang paling dalam.

               Restorasi rumah adat Karo di desa Melas untuk tahap pertama dapat dikatakan sukses karena prioritas yang diharapkan tercapai, yaitu penyisipan atap, karena banyak atap yang telah bocor sehingga memperlambat pembusukan kayu. Semoga restorasi untuk tahap ke dua tidak terlalu lama sehingga kerusakan-kerusakan pada rumah adat tersebut secepatnya tertanggulangi, dan kiranya menjadi bukti nyata bahwa gerakan koin untuk rumah adat Karo ini adalah benar-benar kegiatan yang serius, jujur dan nyata, sehingga harapan kita semakin banyak yang akan menyumbangkan koinnya dan ikut sebagai pengumpul koin untuk rumah adat Karo dan ikut menjadi relawan untuk tahap restorasi berikutnya. Mari sumbangkan koin anda untuk restorasi rumah adat Karo di Desa Melas Kec. Dolat rayat Kab. Karo

Bujur ras Mejuah-juah kita kerina...

Gerakan Koin untuk Rumah Adat Karo, Desnalri Sinulingga


Ayo, ramaikaaaaan!!!

Jumat, 16 September 2011

Dasar Ertutur

Ertutur menjadi hal yang sering dijumpai dalam pertemuan orang Karo. Saling memperkenalkan diri, identitas yang melekat di dirinya masing-masing. Sebelum mengetahui identitas teman bicara, dan saling mengetahui hubungan kekerabatannya berbincang-bincang belumlah dianggap nyaman. Berkaitan dengan teori komunikasi yang mengatakan bahwa komunikasi bergantung pada hubungan orang yang berkomunikasi tersebut. Tambah lagi dalam masyarakat Karo, ada budaya ngerana erkesehen yang berarti berbicara haruslah berkesempaian, dalam pengertian kalau kita berbicara dengan ibu kita, kita harus berbicara berkesempaian, pas ditujukan kepada ibu tersebut "enta senndu, Nde" (berikan aku uangmu, Bu), bukanlah "enta sen" seperti berbicara pada angin.


Agar kita bisa ertutur maka kita terlebih dulu harus mengerti beberapa identitas kita berikut ini:


1. Merga / Beru
Marga atau clan yang pada laki-laki disebut Merga, yang berarti meherga, mahal, serta pada perempuan disebut Beru, yang berasal dari kata mberu sebuah kata yang merupakan gambaran dari sebuah keanggunan dan kecantikan dalam masyarakat Karo.
Merga/ Beru ini diperoleh dari Ayah. Clan ayah inilah yang menjadi Merga bagi laki-laki dan Beru bagi perempuan.
Dalam Kebudayaan Karo, ada lima clan, yang populer disebut Merga Silima, khususnya lebih populernya setelah adanya Keputusan Kongres Kebudayaan Karo, 3 Desember 1995 di Sibayak International Hotel Berastagi merekomendasikan, agar pemakaian merga berdasarkan “merga silima”, yaitu :

1.      Karo-karo
2.      Ginting
3.      Tarigan
4.      Perangin-angin
5.      Sembiring

Selanjutnya, lima merga ini diikuti dengan submarga yang memiliki pembagian sub merga masing-masing.


2. Bebere/ Bere-bere
Bebere ini kita peroleh dari ibu kita. Beru ibu kita ini menjadi bere-bere kita.


3. Kempu
Perkempun ini datang dari Nenek yang melahirkan Ibu kita. Beru Nininta (nenek) dari Ibu menjadi Perkempun kita.


4.Binuang
Binuang ini datang dari Nini (nenek) yang melahirkan Ayah kita. Beru Nini dari Ayah ini menjadi Binuang kita.


5. Kampah
Kampah ini datang dari Nini Bulang (kakek) dari Ayah kita. Bebere Nini Bulang ini menjadi Kampah kita.


6. Soler
Soleh datang dari Nini Bulang dari Ibu kita. Bebere Bulang dari Ibu ini menjadi Soler kita.


Hal mendasar ini menjadi yang harus diketahui masing-masing individu untuk bisa Ertutur dengan orang lain. Identitas dasar ini menjadi hal yang akan terus dipakai, jadi perlu untuk mengetahuinya dengan baik.


Kamu Merga/ Beru apa? silahkan jawab sampai ke Solernya, maka kita ngerana.. ;)
Mejuah-juah