Tampilkan postingan dengan label Sibayak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sibayak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Oktober 2011

Memanen Listrik dari Gunung Api


Pipa-pipa raksasa berjalinan. Sebagian menghunjam dalam perut Gunung Sibayak, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Asap putih mengepul bersamaan dengan listrik yang terpompa keluar tanpa henti.

Pipa dari sumur panas bumi milik PT Pertamina Geothermal Energy dengan latar belakang Gunung Sibayak (2.212 mdpl) di Desa Raja Berneh atau Desa Semangat Gunung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Selasa (26/7/2011)

Jika gunung api di Indonesia identik letusan dan bencana, Sibayak merupakan pengecualian. Gunung berketinggian 2.172 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini merupakan sedikit dari gunung api di Indonesia yang telah menjadi ladang listrik bersumber energi panas bumi.
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sibayak di Desa Semangat Gunung dan Desa Doulu itu telah menghasilkan listrik berkapasitas 10 megawatt (MW) dan masih berpotensi dimaksimalkan hingga 40 MW.

Sumur panas bumi tersebut dikelola PT Pertamina Geothermal Energy (PGE). ”Kami bertanggung jawab mengusahakan panas bumi hingga permukaan, sedangkan PT Dizamatra Powerindo yang membangkitkannya menjadi listrik dan menjualnya ke PLN,” kata Sapto Trianggo Nurseto, ahli geosains dari PT Pertamina Geothermal Energy AG Sibayak, saat ditemui di PLTP Sibayak.
Menurut Sapto, prinsip kerja panas bumi mirip dengan memasak air dalam ceret. Dibutuhkan kompor untuk memanaskan ceret agar air di dalamnya mendidih dan memproduksi uap. Uap itulah, dengan suhu dan tekanan tertentu, akan menembus lubang kecil penutup ceret. Dalam perumpamaan ini, kompor adalah batuan panas, lapisan air merupakan reservoir air di bawah batuan, tutup ceret adalah batuan penudung yang menjebak uap air, sedangkan lubang tutup ceret adalah sumur yang harus dibor.
Salah satu isyarat di daerah tersebut memiliki potensi panas bumi adalah keberadaan semburan uap panas (fumarol) dan sumber mata air panas. Tak semua jalur gunung api bisa dibor untuk panas bumi. ”Harus ada syarat batuan panas, reservoir air, dan batuan penudung,” kata Sapto. Dan Gunung Sibayak memiliki semua syarat itu.


Proses pembentukan
Dibelit Cincin Api Pasifik dan diimpit tumbukan tiga lempeng benua yang hiperaktif (Pasifik, Eruro-Asia, dan Indo-Australia), Indonesia memiliki 129 gunung api atau sekitar 30 persen dari total gunung api dunia. Tumbukan lempeng juga membentuk zona subduksi yang panjang, mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, sampai ke Kepulauan Maluku. Di Sumatera, fenomena itu mengakibatkan terbentuknya suatu patahan geser besar (transform fault) yang disebut Zona Patahan Besar Sumatera.
Selama ini, gunung-gunung api dan zona patahan ini lebih merupakan sumber bencana. Padahal, selain limpahan abu vulkanik yang menyuburkan tanah, gunung api dan zona patahan juga menjadi ladang bagi energi panas bumi. ”Zona patahan berpotensi bagi terbentuknya tungku pemanas alami di dalam bumi,” papar Sapto.
Indonesia memiliki potensi panas bumi 40 persen dari cadangan dunia atau mencapai 28.000 MW. Potensi ini merupakan yang terbesar di dunia. Perkiraan itu dari perhitungan setelah mengebor sekitar 244 sumur energi panas bumi dari Aceh sampai Irian Jaya. Namun, potensi itu baru dimanfaatkan sekitar 1.332 MW (4,7 persen dari potensi yang ada), yang menempatkan Indonesia di bawah Filipina (2.000 MW) dan Amerika Serikat (2.700 MW).
Padahal, jika dioptimalkan, Indonesia bisa menjadi negara superpower energi. Tak kurang dari penerima Nobel Perdamian 2007, Al Gore yang mengemukakan hal itu. ”Indonesia bisa menjadi negara superpower energi listrik panas bumi yang memberi manfaat ekonomi bagi Indonesia,” kata Al Gore, dalam pembukaan ”The Climate Project Asia Pacific Summit”, di Balai Sidang Senayan, Jakarta, awal tahun lalu.
Menanggapi pernyataan Al Gore, mantan Kepala Direktorat Vulkanologi dan Geotermal Dirjen Geologi Sumber Daya Mineral Subroto Modjo bersemangat, tetapi kemudian tertawa. ”Betul, enggak salah. Tetapi sepanjang menyangkut potensi yang kita miliki. Kalau menyangkut yang dimanfaatkan, kita jadi malu ha-ha,” katanya.
Subroto adalah salah satu orang yang bertanggung jawab atas pengembangan energi panas bumi pertama kali di Indonesia, yang aktif pada rentang 1974-1988. PLTP pertama kali diresmikan pada tahun 1983 di Kamojang dengan kapasitas terpasang 30 MW.
Indonesia termasuk telat menseriusi energi panas bumi. ”Kita baru merasa perlu mengembangkan panas bumi setelah terinspirasi Selandia Baru yang berhasil dengan panas bumi mereka,” katanya.
Dengan potensi yang ada, ungkapan Al Gore sebenarnya bukanlah isapan jempol. Namun, hingga kini, komentar itu hanya menjadi sindiran, dari kebijakan Indonesia yang lebih memilih mengeruk energi hitam batubara yang masih menjadi primadona.
Volume batubara yang dibakar pada semester I-2011 naik 12 persen dibandingkan dengan semester I-2010. Kini, bauran energi PT PLN pada semester I-2011 adalah batubara (43 persen), bahan bakar minyak (24 persen), gas (21 persen), air (7 persen), dan panas bumi hanya 5 persen.
Belakangan, energi nuklir malah kian dilirik. Ketika Jepang, negara terbaik dalam pengelolaan nuklir, ”menyerah” dengan nuklir dan mematok target agar tahun 2030 semua rumah tangga memanen energi matahari, Indonesia justru mematok target pembangkit tenaga nuklir.


Energi Bersih
Berbeda dengan pembangkit lain, PLTP relatif bersih dari emisi dan bisa diperbaharui. Gas-gas beracun tetap ada, tetapi dengan konsentrasi yang aman.

Sumber daya untuk mempertahankan PLTP yakni batuan panas dan cadangan air relatif terbarui. Untuk batuan panas, tak diragukan lagi ketersediaannya sepanjang tahun oleh alam. Adapun cadangan air terpelihara karena uap air yang telah dimanfaatkan menggerakkan turbin, kembali menjadi air dan dapat diinjeksi kembali ke dalam bumi.

"Jadi ini sebuah siklus." kata Sapto. Ketika sudah berhasil memanen, seterusnya bisa dimanfaatkan tanpa harus membeli bahan bakar lagi karena bahan bakar disediakan alam.

Sapto menambahkan secara keteknikan tidak ada kendala dalam mengeksplorasi potensi panas bumi di Indonesia. Nilai investasinya, yaitu sekitar 7 juta dollar AS, juga masih dinilai menguntungkan. "Berbeda dengan minyak yang cadangannya terbatas dan bisa habis. Untuk panas bumi cadangannya nyaris tak terbatas," kata dia.

Sejauh ini, menurut Sapto, banyak investor asing yang tertarik mengeksplorasi energi panas bumi di Indonesia, utamanya Jepang. "Yang menjadi kendala adalah perizinan. Pasalnya, sebagian besar potensi panas bumi kita tumpang-tindih dengan kawasan hutan," kata dia.

Butuh keberpihakan untuk mengoptimalkan energi panas bumi Indonesia agar gejolak geologi yang hiperaktif di bawah bumi kita tidak hanya mengirim petaka, tetapi juga kemakmuran bagi rakyatnya.

Kompas, Jumat, 14 Oktober 2011

Bertarung ke Puncak Petarung

mendaki gunung sinabung
“Awas batuuuuu…,” teriakan keras itu memecah malam sunyi. Dengan bantuan sinar senter, mata liar mencari arah jatuhan batu. Badan bergeser ke tubir tebing, sementara tangan erat mencengkeram akar pepohonan.
Tiba-tiba terdengar suara tak kalah keras, “Aduuuh.” Salah seorang porter, yang berada beberapa langkah di depan, rupanya terlambat menghindar. Tangannya terbentur batuan longsor. Untung hanya terluka kecil.
Walau “hanya” berketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut, pendakian ke Sinabung tidaklah mudah. Batuan rapuh, cadas licin berselimut lumut, dan tanjakan berkemiringan 75 derajat menemani perjalanan, 26 Juli lalu. Demi mengejar matahari terbit di puncak, perjalanan malam pun ditempuh.
Lau Kawar
Sehari sebelum pendakian, Puncak Sinabung diselimuti asap tebal. Digolongkan sebagai gunung api Tipe B—karena tak aktif sejak tahun 1600—Sinabung tiba-tiba meletus, 29 Agustus 2010. Letusan itu menaikkan status Sinabung menjadi Tipe A dan dipantau intensif.
Letusan itu juga menumbuhsuburkan ritual terkait gunung. Jejak ritual berupa sesaji terlihat di sepanjang jalur pendakian, biasanya berupa jeruk peras, daun sirih, dan rokok.
Pendakian diawali dari Danau Lau Kawar. Danau seluas 200 hektar yang siang hari begitu indah berubah misterius pukul 00.30. Pikiran pun melayang pada legenda danau tersebut.
Konon, sebelum jadi danau, Lau Kawar merupakan lahan pertanian. Hiduplah satu keluarga petani. Silih berganti anggota keluarga menunggu ladang, hingga siang itu tiba giliran sang nenek. Sebagaimana biasa, cucunya, Kawar, mengantarkan makanan.
Namun, dalam perjalanan, Kawar kelaparan. Tanpa pikir panjang disantapnya jatah nenek hingga tersisa tulang. Nenek kecewa ketika menemukan bekalnya tanpa lauk-pauk lagi.
Sambil menangis, ia berkata, “Daging pun aku sulit mengunyah, kenapa cucuku tega memberi tulang. Seakan aku tidak berguna lagi di dunia.”
Seketika itu juga hujan lebat turun, disertai petir. Banjir melanda, menenggelamkan Kawar, nenek, dan lahan pertanian sehingga terbentuklah danau yang dinamakan Lau Kawar.
Moral cerita ini barangkali untuk mengingatkan agar menghormati orang tua dan jangan serakah. Namun, di baliknya ada upaya merekonstruksi penciptaan danau. Antropolog dari Universitas Pittsburgh, Pamela J Stewart dan Andrew Strathern, dalam Landscape, Memory and History: Anthropological Perspectives (2003) menyebutkan, formasi alam yang unik, seperti gunung, danau, dan sumber air panas, kerap dikeramatkan. Pantangan dibuat demi menghormati ruang sakral itu.
“Saat mendaki Sinabung, tak boleh berpikir dan berucap kotor, membakar babi atau anjing, karena akan mendatangkan bencana,” kata Sidarta, pemandu pendakian.
Bagi orang Karo, Sinabung bukan sekadar gunung. Dia juga ruang spiritual, yang jejaknya terekam dari sejumlah sesajen di jalur pendakian. Antropolog dari Universitas Sumatera Utara, Sri Alem Sembiring, mengatakan, orang Karo percaya tendi yang mengisi alam semesta. Ritual dilakukan jika terjadi ketidakseimbangan antara tubuh dan tendi. Keseimbangan alam terganggu jika inti kehidupan, seperti tanah, air, dan udara, terusik. Ritual berfungsi menjaga keseimbangan makrokosmos agar tidak terjadi bencana.
Sang petarung
Bertolak dari tepi danau itu, kami mendaki ke puncak. Tidak banyak yang dilihat lantaran gelap. Satu jam mendaki, pepohonan lebat dengan akar menghalangi digantikan bebatuan cadas yang terbentuk dari lelehan lava. Jalan semakin terjal.
Batu-batuan longgar dengan mudah tercongkel dan gugur. Sebelum berangkat, petugas pos pemantauan Sinabung, Armen Putra, mengatakan, aktivitas Sinabung stabil dan aman didaki. Hanya saja, pendaki harus berhati-hati dengan kemungkinan runtuhan batu. Sinabung memang tak bisa diremehkan. Selain jalan terjal, bebatuannya pun rapuh dan mudah longsor.
Tak heran, Sinabung disebut “gunung petarung”. “Ada kepercayaan, jika mau sukses dalam hidup, dakilah Sinabung,” ujar Ita Sembiring, budayawan Karo.
Tiga setengah jam mendaki, kami tiba di area lapang, hanya 10 meter dari puncak. Hari masih gelap. Kami tiba satu jam lebih awal dari jadwal. Kabut tebal turun. Angin menderu kencang, membawa gigil dingin. Kami menunggu di tanah lapang itu, menggelar mantel dan membungkus tubuh dengan pakaian tebal yang dibawa.
Pukul 05.30, langit tetap gelap. Setengah jam berlalu, suasana tak berubah. Kami memutuskan menuju puncak. Berdiri di Puncak Sinabung, seperti tegak di atas awan. Matahari nyaris tak terlihat, bersembunyi di balik kabut. Kami bertahan, menunggu alam bermurah hati membuka diri.
Hanya sekelebatan kabut menyingsing. Tak cukup memberi waktu untuk mengabadikan panorama menawan.
Sinabung memberi kami pelajaran penting, gunung ini sulit diduga dan tak boleh diremehkan

Kompas, Sabtu 15 Oktober 2011

Bangkitnya Ritual Orang Gunung


Tambah Tarigan (70) duduk takzim dengan lutut ditekuk. Sirih dan tembakau tersaji di depannya. Kedua tangan keriputnya menyatu di depan dada. Suasana hening. Tiba-tiba tubuhnya bergetar. Hanya sesaat, lalu kembali diam.
Orang-orang di dalam rumah panggung kayu itu tegang menantikan adegan berikutnya. ”Nggo reh nini, kai penungkunen kena (Nenek sudah datang. Kalian mau tanya apa)?” suara Tambah memecah keheningan.
Tiga pemuda desa yang duduk mengitari Tambah lalu bertanya. ”Apakah Sinabung akan meletus lagi?” ujar Sabirin Manurung, pemuda yang biasa menjadi pemandu pendakian.
Mata Tambah terpejam. Suara gemeresak seperti radio rusak keluar dari tenggorokan, sementara bibirnya terkatup. Setelah suara gemeresak berhenti, Tambah berujar, ”Kata ’mereka’, Sinabung tidak akan meletus lagi. Aman.” ”Mereka” yang dimaksud adalah roh-roh leluhur di Sinabung.
”Kenapa tahun lalu Sinabung meletus?” ujar Sabirin lagi. Suara gemeresik kembali terdengar dari tenggorokan Tambah. ”’Mereka’ marah. Warga menambang batu dan melukai ’mereka’. Warga sudah meninggalkan ’mereka’ dan tidak mau mengadakan upacara lagi,” ujar Tambah.
Bagi Tambah, Sinabung bukan hanya batuan. Ia sosok hidup, bisa terluka dan marah. Asap putih yang mengepul dari puncak Sinabung ibarat embusan napas roh-roh gunung.
Roh yang semula tertidur tenang itu bangkit sejak setahun lalu. Sinabung, yang tak pernah tercatat aktif, tiba-tiba meletus pada 29 Agustus 2010. Letusan gunung juga memicu kembalinya kepercayaan tradisional.
Kembali marak
Hanya beberapa hari setelah letusan, para guru si baso disibukkan berbagai upacara. Tambah, misalnya, diminta turut memimpin ritual pemberian sesaji berupa rokok, bunga, dan hasil bumi di dekat Danau Lau Kawar, yang berada persis di kaki Sinabung.
Ritual juga diadakan di Desa Guru Kinayan, Kecamatan Payung, dan di Desa Kuta Rakyat, Kecamatan Naman Teran. Seekor kambing putih dan lembu dilepaskan di kaki gunung sebagai persembahan.
Ritual hampir dilakukan sepanjang tahun. Warga biasanya segera mengadakan ritual jika merasa menemukan keganjilan. Seperti yang terjadi di Desa Guru Kinayan, pertengahan Juli 2011.
Beberapa warga mengaku melihat sarilala, semacam bola api, melintasi desa mereka. Khawatir terjadi musibah, terutama karena gunung meletus, warga menaruh sesaji di tempat keramat, seperti sumber air, pohon besar, dan makam kuno.
Guru si baso didaulat menjadi medium untuk meminta kepada roh leluhur. Puluhan warga lalu berduyun-duyun menuju jambur, tempat mereka menari-nari diiringi gendang. Aparat desa pun turut serta dalam ritual tersebut.
Salah seorang warga, Harapan Sembiring (60), turut dalam upacara itu karena berharap desanya tak terkena petaka. Ritual itu juga membawa manfaat lain. Upacara yang dipersiapkan dengan gotong-royong telah membangkitkan kebersamaan. ”Orang-orang tua juga berpesan dalam upacara tadi supaya warga akur, saling tolong, dan berbuat baik,” ujarnya.
Sebelum letusan Sinabung, ritual tradisional sulit ditemui. Rita Smith Kipp, antropolog dari Kenyon College, dalam bukunya, Dissociated Identities Ethnicity, Religion, and Class in an Indonesian Society, 1993, menulis, ritual skala besar mulai jarang dijumpai di Karo sejak 1970-an. Redupnya ritual ini, menurut Rita, tak lepas dari kian banyaknya orang Karo yang memeluk agama formal.
Memudar bukan berarti hilang. Antropolog dari Universitas Sumatera Utara, Sri Alem Sembiring, sejak lama mengamati peran guru si baso sebagai penjaga tradisi. ”Masyarakat memang jarang mengadakan upacara, tetapi kelompok tabib dan guru rutin melakukan ritual di tempat keramat,” ujarnya.
Namun, Sri Alem menangkap perbedaan ritual yang dilakukan sebelum dan sesudah letusan. Sebelum letusan, ritual tidak khusus ditujukan atau terkait gunung. Alasannya, selama ratusan tahun Sinabung tidak pernah meletus sehingga masyarakat tidak lagi memiliki memori yang menakutkan terhadap gunung.
Ketika Sinabung meletus, berbagai ritual yang dasarnya pemberian sesaji alias ercibal untuk tolak bala itu difokuskan ke Sinabung.
Ritual-ritual ini dipimpin guru si baso yang menjadi penghubung antara warga dan roh. Guru diyakini memiliki pengetahuan tentang alam semesta yang berasal dari Yang Kuasa. Mereka juga berfungsi sebagai biak penungkunen, tempat meminta penjelasan dan sehat atas peristiwa aneh yang dialami.
Di sisi lain, warga mengalami krisis kepercayaan terhadap ilmuwan dan pemerintah, yang dianggap gagal memperingatkan soal letusan Sinabung, yang tiba-tiba terjadi. ”Masyarakat berpikir, geolog saja bisa keliru. Itu berarti ada rahasia yang tak terungkap,” ujarnya.
Warga kemudian memilih pasrah dan menyerahkan ”rahasia alam” itu kepada guru si baso. Kepasrahan dan ritual ini menjadi perlindungan dari segala kerumitan fenomena alam yang tak terjelaskan.
Itu pula yang mendorong tiga pemuda desa memilih mendengarkan gemeresik suara dari tenggorokan Tambah Tarigan ketimbang datang ke Pos Pemantauan Gunung Api Sinabung. (Mohammad Hilmi Faiq/Amir Sodikin)


(KOMPAS, Jumat 14 Oktober 2011)